Belajar Forex masterforex.org

InstaForex

Minggu, 30 Januari 2011

Sistem Perdagangan Komoditi



Spot Trading: Pada tahun 1840, pemasaran biji-bijian sejenis palawija, gandum,jagung, dan kedelai (grain) di Chicago (Amerika Serikat) mengalami masa yang sangat sulit. Selama beberapa tahun terutama musim semi pada awal menanam benih untuk memenuhi permintaan yang meningkat harga grain sangat tinggi di Chicago. Keadaan itu memengaruhi semangat para petani. Namun,kegembiraan para petani tidak berlangsung sampai tiba musim panen karena harga grain turun cukup drastis. Para petani sangat terpukul karena mereka rugi.

Kenapa harga grain turun drastis? penyebabnya adalah karena para petani tidak memiliki tempat penyimpanan (strorage) yang cukup luas dan besar sehingga petani terpaksa menjual grain dengan harga yang dikendalikan oleh para pembeli sementara hasil penen melimpah. Keadaan itu tentu menyulitkan para petani.

Oleh karena penen melimpah dan gudang tidak cukup tersedia menyimpan panen, harga grain turun dengan drastis dan sepenuhnya dikendalikan oleh para pembeli. Jumlah bahan yang ditawarkan sangat melimpah tak sebanding dengan jumlah permintaan yang dibutuhkan pembeli. Para petani berusaha mencari pembeli sebanyak mungkin sehinggah harga grain jatuh.

Pada sisi lain, jika musim kurang baik atau tidak atau tidak sesuai dengan tanaman grain, hal itu menimbulkan masalah lain. Sistem dan jalur distribusi pun bisa lambat karena kondisi transportasi tidak baik atau kurang mendukung. Hambatan musim tadi menyebabkan gagal panen sehingga harga grain menjadi tinggi. Para petani tidak dapat memenuhi permintaan pabrik karena persediaan grain hanya sedikit. Akibatnya harga grain melambung sangat tinggi.

Tanaman grain merupakan salah satu bahan baku utama yang dibutuhkan sektor industri roti, tepung, dan lain-lain. Di dunia Barat khusunya Amerika Serikat (AS), roti dan tepung merupakan bahan makanan pokok. Harga grain selalu berubah setiap saat yang berakibat pada harga akhir tepung dan roti. perubahan harga tepung dan roti itu juga karena perubahan harga bahan baku lainnya. Keadaan itu menuyulitkan produsen (pabrikan) roti dan tepung. Masyarakat sebagai konsumen akhir akan kesulitan melakukan pembelian kebutuhan pokok itu.

mempelajari kenyataan yang selali membingungkan itu, mendorong para petani sebagai produsen/penghasil grain dan pihak pabrik industri roti dan tepung sebagai konsumen serta masnyarakat harus mencari cara pemecahan yang mereka hadapi bersama. Tidak mungkin hanya satu pihak yang memecahkan masalah itu tetapi harus mencari solusi secara bersama-sama. Jumlah kebutuhan pokok yakni makanan utama masyarakat terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di AS. para petani, pebrikan serta masyarakat mulai memikirkan perlunya menyediakan suatu pusat pasar yang bisa mempertemukan para petani selaku penjual grain dengan pembeli yakni pabrikan.

Impian para petani menjadi kenyataan pada tahun 1848 ketika 82 orang pengusaha di Chicago mendirikan wadah yang dinamai Chicago Board of Trade (CBOT). CBOT mewadahi pertemuan para petani dan pembeli grain. Tujuan pendirian CBOT adalah agar para petani (produsen) dan pabrikan (pembeli) dapat saling menukarkan (jual-beli) grain dipasar spot.

Forward trading. Dengan CBOT para pendiri melihat suatu peluang untuk membuat perjanjian jual-beli bahan grain pada waktu mendatang yang kita kenal dengan sebutan forward trading. Tanggal 13 Maret 1851 merupakan awal kontrak forward yang pertama dan dicatat dengan 3.000 bushels. Setiap 1 bushels setaradengan 6 liter jagung dan yang kemudian dikirimkan pada tanggal juni 1851.

Forward trading adalah dokumen perjanjian dan kesepakatan (komitmen) yang legal/sah antara pembeli dan penjual dan harus dipatuhi oleh jedua belah pihak. Dalam dokumen itu dicatumkan jenis dan spesifikasi komoditi seperti jumlahnya, harga, waktu pengiriman dan lokasi penerimaan yang telah ditentukan pada waktu kemudian/mendatang.

Dengan forward trading para petani sangat terbantu, demikian pula pabrikan lebih mudah dan lebih awal menyusun rencana jangka panjang. Petani mendapatkan untung yang lebih banyak karena pembeli yakni pabrikan sudah pasti membeli hasil panenan. Sementara itu pihak pabrikan juga mendapatkan keuntungan dengan harga yang telah disepakati oleh kedua belah pihak meski penyerahan bahan yang dibeli itu baru akan dilakuakn beberapa bulan setelah surat kesepakatan disepakati oleh para pihak.

 Futures trading: Dalam perkembangannya, implementasi konsep forward trading memiliki beberapa kelemahan. Kontrak perjanjian tidak mempunyai standar kualitas dan ketepatan waktu pengirim (delivery time). Pada kenyataannya, pihak pembeli dan pedagang sering kali tidak menepati komitmen masing-masing sesuai dengan kesepakatan dalam forward trading sehingga ada pihak yang dianggap ingkar janji.

Kemudian pada tahun 1865, fungsi CBOT mengalami perkembangan dengan memformalkan standar kontrak untuk futures trading.Sejarah inilah yang menjadikan forward trading sebagai awal pemikiran dengan melakukan futures trading yang sekarangkita kenal dengan istilah futures market atau di Indonesia disebutkan dengan istilah perdagangan berjangka.

Perbedaan paling mendasar antara mendasar antara forward market dan futures market terletak pada acara bernegosiasi untuk menentukan harga. Pada model forward trading harga ditentukan secara lelang dan terbuka dan melibatkan banyak pembeli dan penjual.

Pengaturan kebijakan dan undang-undang merupakan satu kebutuhan dan sangat penting untuk mengikat para pelaku bisnis pada futures trading. Pengurus CBOT kemudian mengadopsi suatu kebijakan dan hukum yang digunakan sebagai pegawas untuk menjaga berlangsungnya pasar bebas yang tetap terjaga secara kompetitif.

Pihak pembeli dan penjual yang selanjutnyadisebut anggota yang melakukan kegiatan perdagangan di lantai perdagangan. Pada saat penyerahan fisik komoditi dari penjual kepada pembeli sama-sama terikat dengan peraturan dan ketentuan keanggotaan CBOT. Para anggota yang beraktivitas di lantai perdagangan memiliki tanggung jawab sesuai dengan ketetuan yang mereka lakukan. Pelanggran terhadap peraturan keanggotaan CBOT mengakibatkan adanya hukuman atau sanksi yang keras dan tegas bagi pelanggaran/ingkar janji sesuai dengan ketentuan dan undang-undang yang telah disepakati bersama.

Peraturan yang mengikat seluruh anggota selalu menekankan pemeriksaan terhadap jumlah dan kualitas atas komoditi yang diperdagangkan.Setiap anggota wajib memberikan catatan historis tentang keadaan dan perkembangan keuangannya.

Pada tahun 1900, futures market mengalami peningkatan yang sangat pesat. Selain CBOT, bursa-bursa lain bermunculan, seperti Chicago Mercantile Exchange, The New york Cotton Exchange,The New York Sugar Exachange, Chicago Butter and Egg Board. Pada saat itulah pemerintah federal mulai menaruh perhatian dan akhirnya memandang perlu untuk membuat undang-undang mengenai futures trading ini.

Pada tahun 1923, diterbitkan Grain Futures Act merupakan undang-undang pertama mengani futures trading. Salah satu ketentuan The Grain Futures Act adalah mewajibkan komoditi yang akan diperdagangkan di bursa mendapatkan izin (licensel) dari pemerintah federal. Pada tahun 1936 diterbitkan hukum baru yang digunakan pada kegiatan futures trading. Hukumitu dinamanakan Commodity Exchange Act yang ditetapkan oleh Commodity Exchange Authority (CEA). CEA memiliki kekkuatan di bidang kebijakan futures trading. UU ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Departemen Pertanian (US Departement of Agriculture).

Sebuah komisi independen terdiri dari 5 orang anggota bernama The Commodity futures trading Commissions (CFTC) menggantikan Commodity Exchange Act menjadi Commofity Trading Commission Act pada tahun 1974. Otoritas CFTC cukup kuat yang mampu mengambil alih kebijakan yang tadinyaditangani oleh pemerintah. Dalam melakukan tugasnya CFTC bertanggung jawab kepada presiden dan mengonfirmasikan tugas-tugasnya kepada senat. Komisi CFTC mempunyai tanggung jawab penuh dalam membuat kebijakan yang berhubungan dengan pelaksanaan futures trading. 

Para anggota bursa yang mempunyai hak dan kewajiban sesuai dengan peraturan keanggotaan bekerja sama dengan CFTC membuat kebijakan pasar berjangka. Kerja sama yang baik ini menciptakan terjadinya persaingan yang bebas menuju sistem ekonomi pasar.

Pada periode yang sama terjadi perkembangan bursa di Asia yakni di Jepang. Jepang memiliki dan mengoperasikan 12 (dua belas) bursa yang berada di bawah 2 kementrian. salah satunya adalah Kementrian Pertanian, Kehutanan, dan perikanan (MAFF=Ministry of Agriculture,Forestry,and Fisheries), dan yang kedua adalah kementrian Perdagangan Internasional dan Industri (MITI= Ministry of International Trade and Industry). Karena ke-12 bursa itu diurus oleh dua kementrian yang berbeda maka uang deposit 'customer' dikelola secara terpisah. Artinya pengaturan keuangan diatur oleh bursa di bawah kementrian masing-masing.

Bursa yang tergabung di dalam MAFF terdiri dari 8 anggota bursa, yaitu:
1. Tokyo Grain Exchange (TGE),
2. Nagoya Grain & Sugar Exchange (NGE),
3. Kansai Agricultural Commodities Exchange (KAE),
4. Kanmon Commodity Exchange (KCE),
5. Yokohama Raw Silk Exchange (YSE),
6. Kobe Raw Sikl Exchange (KSE),
7. Maebashi Dry Cocoon Exchange (MDE), dan
8. Toyohashi Dry Cocoon Exchange (TDE).

Bursa yang tergabung dalam MITI ada 4 anggota bursa Yaitu : 
1. Tokyo Commodity Exchange (TCM),
2. Nagoya Textile Exchange (NTE),
3. Osaka Textile Exchange (OTE), dan
4. Kobe Rubber Exchange (KRE).

Terjadi perubahan pada perkembangan selanjutnya, Toyohashi Dry Cocoon Exchange, Nagoya Grain & Sugar Exchange dan Nagoya Textile Exchange digabung menjadi Chubu Commodity Exchange pada 1 Oktober 1996. Komoditi yang diperdagangkan adalah dry cooon, red bean, ilmported soybean, refiner sugar, cotton yarn (40s) dan woolen yarn. Dengan demikian jumlah bursa komoditi Jepang berkurang dari 12 menjadi 10 bursa pada waktu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...